Dua unit alat berat mulai masuk ke lokasi Peti Sipayo Parimo
Parigi- Dua alat berat jenis ekskavator mulai masuk masuk ke lokasi pertambangan tanpa izin (Peti) di Desa Sipayo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah dan dikabarkan aktivitas tersebut kembali beroperasi.
“Informasinya bawa Kamis (13/8) ada dua unit alat berat yang naik ke lokasi tambang di wilayah Sipayo/Malanggo,” kata sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Selasa (25/8/2026).
Baca juga: Sembilan terdakwa PETI di Parimo jalani sidang
Sumber media ini mengemukakan bahwa alat berat itu berada di bawah kendali pemodal berinisial A dan telah dikerahkan kelokasi tambang untuk mengeruk material.
Di Desa Sipayo, Kecamatan Sidoan aktivitas peti sepat berhenti sebelumnya setelah banjir menghantam areal peti.
“Sempat berhenti karena terjadi banjir,” ujarnya.
Baca juga: 18 warga Palu ditangkap BNN karena terlibat narkoba
Setelah kondisi lokasi sudah memungkinan untuk dikeruk, katibitas penambangan dilanjutkan kembali menggunakan alat berat.
Menurut sumbar dari aktivitas tanpa izin itu memicu kekhawatiran warga setempat, pasalnya dari kegiatan penambangan dapat berdampak terhadap lingkungan sekitar, termasuk potensi bencana hidrometeorologi.
Warga juga cemas terhadap potensi kekeruhan air, sedimentasi hingga perubahan aliran sungai.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko banjir ketika hujan deras dan material hasil pengerukan terbawa arus.
“Kekhawatiran warga semakin besar karena lokasi tambang sebelumnya disebut sempat terdampak banjir,” ucapnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (APH) segera melakukan pengecekan di lokasi.
Mereka meminta aktivitas tersebut dipastikan memiliki izin serta tidak membahayakan lingkungan dan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah daerah melakukan pengecekan di lokasi sebelum aktivitas tambang emas ilegal tambah meluas. Sementara APH kami minta menangkap semua yang terlibat, terutama para pemodal,” tuturnya.
Ia mengingatkan potensi dampak terhadap masyarakat yang berada di wilayah lebih rendah dari lokasi tambang.
“Kami khawatir kalau alat berat kembali beroperasi, apalagi kalau hujan deras. Dampaknya bisa ke sungai dan masyarakat di bawah,” kata dia menambahkan.

Tinggalkan Balasan